Selasa, 14 April 2015

Puisi Tangisan Budaya Ketimuran

Tangisan Budaya Ketimuran

 

Budaya ketimuran…

Kau adalah budaya bangsa

Budaya asli Indonesia

Yang akan selalu melekat di jiwa

 

Tapi kini kau terdengar oleh batu kerikil

Dan diakui oleh bangsa lain

Aku harus bagaimana

Rasanya hati ini lelah dan putus asa

 

Wahai kawan-kawan

Lihatlah… lihat budaya kita

Dia menangis tersedu-sedu

Karena ulah kita sendiri

 

Banyak orang-orang

Meniru budaya barat

Meniru tingkah laku dan kebudayaannya

Yang mana bukan budaya kita sendiri

 

Wahai kawan-kawan

Lihatlah banyak bangsa lain

Meniru dan mempelajari

Bahkan mengakui karya seni nenek moyang kita

 

Apa yang kita perlihatkan

Kepada anak cucu kita nanti

Jika budaya kita sendiri

Diakui oleh bangsa lain

 

Wahai kawan-kawan

Apakah kalian tidak sedih

Melihat budaya kita budaya ketimuran

Menangis dan merengek seperti bayi

 

Jumat, 10 April 2015

Puisi Air Mata Ibu Pertiwi

Air Mata Ibu Pertiwi

 

Penyakit yang telah mengronis

Merajalela di negeri khatulistiwa

Apa salah kami?

Kami orang-orang pinggiran

Penuh dengan penderitaan

Kami tak berdosa

Mengapa kami yang menderita?

Air mata bercucuran tiada habis

Meratapi Ibu pertiwi yang gundah

 

 

            Kau tahu, kalian semua tahu

            Negeri ini subur, laut yang kaya,

            Hasil tambang yang melimpah

            Bumi kita bak surga dunia

            Namun perlahan-lahan mulai luntur

            Jiwa-jiwa manusia yang kotor dan…

            Ulah egois telah merampas semuanya…

            Oh… oh…. Oh…

 

 

Kita bias melihat dengan mata hati

Kau mengumbar nafsumu untuk sebuah kepuasan

Kau memiliki banyak fasilitas

Kau memiliki harta yang melimpah

Kau tak pernah merasa menderita

Tapi kami orang-orang tak berdaya…

Setiap hari berkumat keluh kesah

Menangis, merintih

Tak pernah lepas…

 

 

            Apakah kau tak malu?

Berdiri tegak tapi…

Kau tak punya rasa!

Kau rakus, kau kejam, kau tamak!

Kau makan uang rakyat

Kau rampas hak mereka, kau sakiti hati mereka!

Sedih…

Ingin menangis di depanmu…

Apa kau lupa?

Pahlawan yang reta bertumpah darah

Kau balas dengan tangisan orang-orang tak berdosa

 

 

            Kini Ibu pertiwiku menangis…

            Oh… Tuhanku… sadarkanlah mereka…

 

Puisi Kepada Anak Nakal

Kepada Anak Nakal

 

Lihatlah

Lihatlah murid di sekolahku

Yang bersemangat mencari ilmu

Dengan ceria membaca buku

Siap menyambut Bapak dan Ibu guru

Siap menerima ajaran selalu

Dan lihatlah di sisi lain

Anak nakal yang memanjat pagar

Dan selalu datang terlambat

Anak yang senang pergi bermain

Menghabiskan waktunya hanya di kantin

Sambil menunggu lonceng berbunyi

Tanda waktu belajar telah habis

Sering kali aku berpikir

Untuk apa mereka berseragam

Membawa tas hanya digendong

Namun pikirnya tetaplah kosong

Pada orang tua selalu berbohong

Berbohong untuk belajar

Kenyataannya mereka selalu dikejar

Guru BP yang selalu mengejar

Agar mereka mau belajar

Supaya mereka jadi murid yang pintar

Membanggakan orang tuanya

Yang bersusah payah membanting tulang

Mencari uang untuk sekolah

Dengan menaruh harapan yang besar

Agar kelak kau dewasa nanti

Akan menjadi orang yang berbudi

Orang yang berguna untuk negeri

Kepada anak nakal

Harimu masih panjang

Masa depan telah menanti

Mari berubah mulai saat ini

Sebelum menyesal di kemudian hari